Abdul Alim = Hamba Allah Yang Mengetahui
Abdul Azim = Hamba Allah Yang Agung
Abdul Aziz = Hamba Allah Yang Mulia
Abdul Bari = Hamba Allah Yang Banyak Kebaikan
Abdul Basit = Hamba Allah Yang Melimpah Nikmat
Abdul Baqi = Hamba Allah Yang Kekal
Abdul Dayyan = Hamba Allah Yang Membalas
Abdul Jabbar = Hamba Allah Yang Tegas
Abdul Jalil = Hamba Allah Yang Mulia
Abdul Jawad = Hamba Allah Yang Pemurah
Abdul Fattah = Hamba Allah Yang Membuka
Abdul Ghafur = Hamba Allah Yang Membuka
Abdul Ghani = Hamba Allah Yang Pengampun
Abdul Hadi = Hamba Allah Yang Kaya
Abdul Hafiz = Hamba Allah Yang Memelihara
Abdul Haiy = Hamba Allah Yang Hidup
Abdul Hak = Hamba Allah Yang Sebenar
Abdul Hakam = Hamba Allah Yang Menghukum
Abdul Hakim = Hamba Allah Yang Bijaksana
Abdul Halim = Hamba Allah Yang Lemah Lembut
Abdul Hamid = Hamba Allah Yang Terpuji
Abdul Hanan = Hamba Allah Yang Penyayang
Abdul Ilah = Hamba Allah / hamba Tuhan
Abdul Karim = Hamba Allah Yang Pemurah
Abdul Khaliq = Hamba Allah Yang Mencipta
Abdullah = Hamba Allah
Abdul Latif = Hamba Allah Yang Lemah Lembut
Abdul Majid = Hamba Allah Yang Mulia
Abdul Mannan = Hamba Allah Yang Memberi Nikmat
Abdul Muhaimin = Hamba Allah Yang Berkuasa
Abdul Mu'ati = Hamba Allah Yang Memberi
Abdul Mun'im = Hamba Allah Yang Memberi Nikmat
Abdul Nasir = Hamba Allah Yang Menolong
Abdul Qadir = Hamba Allah Yang Berkuasa
Sabtu, 05 Desember 2009
MESSIANISME (Oleh: Abu Batoul)
Masih ingat kasus Lia Aminuddin? Seorang wanita asal Puncak, Jawa Barat, yang mengaku sebagai Imam Mahdi itu? Juga Imam Mahdi nya Darul Arqam atau Jemaah Ahmadiyah? Atau, kasus penyebaran gas beracun di Jepang yang dilakukan olch Sekte Hari Kiamat (Aum Sim Ri Kyo)? Atau juga pembunuhan diri massal yang dilakukan oleh pengikut Sekte Davidian (dari David Koresh, sang juru selamat) di Benua Amerika sana?
Walaupun berasal dari belahan dunia yang berbeda, Timur Jauh dan Jantung Peradaban Barat, ketiga contoh tersebut mencirikan sesuatu yang pada intinya sama: kepercayaan bahwa pemimpin gerakan/sekte mereka adalah "sang juru selamat”, walau ekspresi "penyelama¬tannya" terkadang terasa amat ganjil: pembunuhan atau bunuh diri massal. Ungkapan yang ganjil tersebut memang terlalu sering "menguntungkan" sebagian kalangan yang memandang bahwa messianisme (paham yang meyakini akan munculnya seorang juru selamat yang akan membebaskan dunia dari penindasan/penderitaan) merupakan sebuah ilusi dan sesuatu yang absurd (sia sia) belaka. Padahal, hampir semua bangsa dan agama mengenal konsep ini. Di Jawa, misaInya, dikenal apa yang disebut dengan Ratu Adil. Sementara dalam Islam konsep ini dikenal dengan Mahdiisme (kepercayaan akan munculnya Imam Mahdi). Mereka, sebagian kalangan tersebut, lebih jauh mengatakan bahwa ide seperti itu hanyalah buah dari kekonyolan, kepandiran, dan ungkapan dari keputusasaan.
Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif misalnya mengatakan, “...konsep seperti itu mudah menyebar di kalangan mereka yang merasa tertindas dan tingkat pemahaman terhadap ajaran agamanya sangat sederhana. Keyakinan demikian itu hanya ilusi saja yang mengakibatkan orang tidak percaya kepada kemampuannya sendiri ... Dengan kata lain, sama dengan menipu diri sendiri, atau bagian dari penipuan spiritual.”
Walaupun berasal dari belahan dunia yang berbeda, Timur Jauh dan Jantung Peradaban Barat, ketiga contoh tersebut mencirikan sesuatu yang pada intinya sama: kepercayaan bahwa pemimpin gerakan/sekte mereka adalah "sang juru selamat”, walau ekspresi "penyelama¬tannya" terkadang terasa amat ganjil: pembunuhan atau bunuh diri massal. Ungkapan yang ganjil tersebut memang terlalu sering "menguntungkan" sebagian kalangan yang memandang bahwa messianisme (paham yang meyakini akan munculnya seorang juru selamat yang akan membebaskan dunia dari penindasan/penderitaan) merupakan sebuah ilusi dan sesuatu yang absurd (sia sia) belaka. Padahal, hampir semua bangsa dan agama mengenal konsep ini. Di Jawa, misaInya, dikenal apa yang disebut dengan Ratu Adil. Sementara dalam Islam konsep ini dikenal dengan Mahdiisme (kepercayaan akan munculnya Imam Mahdi). Mereka, sebagian kalangan tersebut, lebih jauh mengatakan bahwa ide seperti itu hanyalah buah dari kekonyolan, kepandiran, dan ungkapan dari keputusasaan.
Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif misalnya mengatakan, “...konsep seperti itu mudah menyebar di kalangan mereka yang merasa tertindas dan tingkat pemahaman terhadap ajaran agamanya sangat sederhana. Keyakinan demikian itu hanya ilusi saja yang mengakibatkan orang tidak percaya kepada kemampuannya sendiri ... Dengan kata lain, sama dengan menipu diri sendiri, atau bagian dari penipuan spiritual.”
Langganan:
Komentar (Atom)