Sabtu, 05 Desember 2009

MESSIANISME (Oleh: Abu Batoul)

Masih ingat kasus Lia Aminuddin? Seorang wanita asal Puncak, Jawa Barat, yang mengaku sebagai Imam Mahdi itu? Juga Imam Mahdi nya Darul Arqam atau Jemaah Ahmadiyah? Atau, kasus penyebaran gas beracun di Jepang yang dilakukan olch Sekte Hari Kiamat (Aum Sim Ri Kyo)? Atau juga pembunuhan diri massal yang dilakukan oleh pengikut Sekte Davidian (dari David Koresh, sang juru selamat) di Benua Amerika sana?
Walaupun berasal dari belahan dunia yang berbeda, Timur Jauh dan Jantung Peradaban Barat, ketiga contoh tersebut mencirikan sesuatu yang pada intinya sama: kepercayaan bahwa pemimpin gerakan/sekte mereka adalah "sang juru selamat”, walau ekspresi "penyelama¬tannya" terkadang terasa amat ganjil: pembunuhan atau bunuh diri massal. Ungkapan yang ganjil tersebut memang terlalu sering "menguntungkan" sebagian kalangan yang memandang bahwa messianisme (paham yang meyakini akan munculnya seorang juru selamat yang akan membebaskan dunia dari penindasan/penderitaan) merupakan sebuah ilusi dan sesuatu yang absurd (sia sia) belaka. Padahal, hampir semua bangsa dan agama mengenal konsep ini. Di Jawa, misaInya, dikenal apa yang disebut dengan Ratu Adil. Sementara dalam Islam konsep ini dikenal dengan Mahdiisme (kepercayaan akan munculnya Imam Mahdi). Mereka, sebagian kalangan tersebut, lebih jauh mengatakan bahwa ide seperti itu hanyalah buah dari kekonyolan, kepandiran, dan ungkapan dari keputusasaan.
Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif misalnya mengatakan, “...konsep seperti itu mudah menyebar di kalangan mereka yang merasa tertindas dan tingkat pemahaman terhadap ajaran agamanya sangat sederhana. Keyakinan demikian itu hanya ilusi saja yang mengakibatkan orang tidak percaya kepada kemampuannya sendiri ... Dengan kata lain, sama dengan menipu diri sendiri, atau bagian dari penipuan spiritual.”
Sementara Dr. Azyumardi Azra mengatakan, “...Mahdiisme sebagai sebu¬ah paham sangat terkait pada berbagai faktor sosio politis. Baik dalam kasus Sun¬ni maupun Syi'ah, paham Mahdiisme yang sarat dengan muatan eskatologis, mene¬mukan momentum terkuatnya dalam situa¬si sosial politik yang kacau. Syi’ah sejak semula lahir dalam ketertindasan dan ketakberdayaan terhadap supremasi dan hegemoni politik Sunni yang sering sangat represif atas penganut Syi’ah.”
Dr. Nurcholish Madjid juga mengatakan, “...Kezaliman dan penindasan terhadap pengikut Ali sudah muncul sejak rezim Bani Umayah di Damaskus. Tanpa alasan yang jelas, mereka menindas para keturunan Ali dan kelompok pengikutnya. Beberapa keturunan Ali lalu mencoba menentang kezaliman kaum Umawi ini. Kegigihan dan ketabahan mereka berjuang itu, ditopang oleh kepercayaan dan penantian yang mendalam kepada Imam Mahdi, sang juru selamat.”

Pandangan Yang Absurd
Pernyataan bahwa konsep messian¬isme merupakan buah dari kebodohan dan keputusasaan, serta bahwa itu merupakan ilusi dan mengada ada, tidaklah berdasar. Bahkan secara fenomenologis, dapat di¬buktikan bahwa keyakinan akan datangnya juru selamat, betapapun menyimpangnya ia, tidaklah khas milik masyarakat awam saja. Atau, bagi yang agak kagum pada Barat, ide messianisme temyata bukanlah khas masyarakat Timur yang dianggap agak kolot. Suburnya sekte sekte keagamaan yang memuja pemimpinnya sebagai orang suci dan juru selamat, bahkan mungkin lebih subur di Barat belakangan ini. Kalau dianggap bahwa ide tersebut muncul karena ketertindasan sosial politik, maka bagaimana itu akan dijelaskan dalam masyarakat Barat yang relatif makmur dan merdeka seperti itu.
Memang, tidaklah dapat disangkal bahwa konsep seperti itu merupakan milik semua bangsa dan peradaban. Ia adalah sesuatu yang dapat dikatakan ada secara fitri dalam diri manusia. Ia dapat diiringkan dengan kecenderungan fitriah lainnya dalam diri manusia, seperti misalnya fitrah penyembahan. Yakni, kecenderungan dalam diri manusia untuk memuja dan menyembah sesuatu yang memiliki kekuatan dan kelebihan supranatural…
Dalam semua “tingkatan peradaban”, bangsa bangsa melakukan penyembahan dan pemujaan kepada apa yang mereka sebut sebagai dewa, roh, atau Tuhan. Dalam masyarakat terpencil, di pedalaman Sungai Amazon di Amerika Latin, di tepi Sungai Nil di zaman peradaban Mesir Kuno, di ketinggian Pegunungan Himalaya, di tepi Sungai Kuning di Cina, atau di Pedalaman Pegunungan Jayawijaya di Irian sana, semua melakukan penyembahan, walaupun dengan perwujudan yang beragam dan berlainan: batu, pohon, api, nenek moyang, dan lain lain.
Dalam masyarakat beradab sekalipun, kecenderungan seperti di atas ternyata tidaklah pupus. Dengan bentuk ekspresi yang.baru, kecenderungan seperti itu mengambil wataknya yang agak “intelek”. Dengan memanfaatkan kecanggihan dan perkembangan teknologi, mereka mengekspresikan hal yang kurang lebih sama dengan yang dilakukan saudara-saudara mereka yang ada di pedalaman. Tidak ada yang berubah, dan tidak ada sesuatu yang keluar dari kecenderungan aslinya.
Begitu pula dengan kecenderungan “penantian” akan tegaknya keadilan dan perdamaian di dunia ini. Ia adalah sesuatu yang bisa dianggap fitrah dalam diri manusia. Walaupun ben¬tuk ekspresinya terka¬dang terasa ganjil, seba¬gaimana penyembahan yang terkadang menyem¬bah sesuatu yang aneh dan tidak masuk akal, namun ia ada dan menjadi kecenderungan dalam diri manusia. Bagaima¬napun orang menyang¬kalnya, keyakinan se¬perti itu tetap hidup dan bertahan, hingga hari ini.

Pandangan Islam
Gagasan tentang akan berlakunya kemenangan akhir bagi kebenaran, perdamaian, dan keadilan atas kekuatan jahat, penindasan dan kezaliman, juga gagasan tentang akan menyebamya Islam di seluruh dunia, tegaknya nilai nilai kemanusiaan yang tinggi dan mulia, pembentukan masyarakat ideal dan idaman, dan kepercayaan akan kemampuan untuk menegakkan semua ideal di tangan orang suci—yang dalam hadis hadis disebut sebagai al Mahdi—diyakini oleh semua mazhab dalam Islam dan oleh berbagai aliran pemikiran.
Sebenamya gagasan itu merupakan konsep al Quran sendiri. Al Quran dengan tegas dan jelas meramalkan kemenangan Islam atas kelompok penindas dan jahat tersebut, dan menyatakan bahwa kelompok yang zalim tersebut akan mengalami kekalahan/keruntuhan. Dengan kata lain, al Quran menjanjikan suatu masa depan yang gemilang bagi umat manusia.
Atas dasar itu, maka kita mengerti bahwa sesungguhnya gagasan tersebut bukan merupakan khayalan dan angan angan kosong tanpa dasar, melainkan merupakan suatu gagasan yang berdasar atas suatu sistem kerja yang menyeluruh, evolusi sejarah, kepercayaan terhadap masa depan manusia, berlawanan dengan teori teori tertentu yang banyak berkembang saat ini, yang menyatakan pesimis terhadap masa depan manusia.(Ayatullah Syahid Murtadha Muthahhari).
Begitulah, penantian terhadap hadirnya aI Mahdi sangat dipengaruhi oleh pandangan dunia seseorang. Seseorang yang memandang masa depan umat manusia dengan pandangan optimis¬tis, pastilah meyakini kemenangan ke¬benaran atas kebatilan. Seorang yang beri¬man atas keyakinan tertentu pun, bahkan kalaulah salah keyakinannya itu, tidaklah dapat menerima kalau dikatakan bahwa keyakinannya itu pasti akan hancur dan di¬kalahkan, dan tidak akan mampu menja¬wab tantangan zaman dan waktu.
Memang, haruslah diakui bahwa di antara yang mempercayai keharusan kemenangan kebenaran dan hadimya juru selamat, terdapat perbedaan pandangan yang dapat sangat bertentangan sekali. Bukan tidak mungkin bahwa penantian agung semacam itu justru menghasilkan sikap yang sebaliknya: fatalisme! Mereka memandang bahwa karena kehadiran "Sang Juru Selamat” tersebut justru untuk menyelamatkan manusia dari penindasan, maka masyarakat tidak perlu melakukan apa apa dan cukup menunggu saja. Bahkan, yang lebih ekstrim, memandang bahwa penegakan keadilan yang lebih dini, sebelum kemunculan al Mahdi, justru akan memperlambat kehadirannya. Jenis penantian seperti ini, meminjam istilah Ayatullah Syahid Muthahhari, adalah penantian yang keliru dan merusak.
Semua ayat al Quran dan Hadis yang membentuk konsep dasar tentang al-¬Mahdi, sangat bertentangan dengan pemikiran yang merusak di atas. Keterangan tentang munculnya al Mahdi yang dapat dipahami dari al Quran adalah suatu mata rantai dari rangkaian perjuangan antara orang yang baik dengan orang orang jahat. Dan al Mahdi merupakan simbol kemenangan akhir bagi orang yang baik dan beriman, sebagaimana digambarkan Allah (QS 24: 55):
Dan Allah telah berjanji kepada or¬ang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal amal saleh bahwa Dia sungguh sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka yang telah diridhai Nya untuk mereka, dan Dia benar benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.”

Munculnya al Mahdi merupakan karunia Allah bagi kaum tertindas dan lemah, juga merupakan sarana bagi kekuasaan mereka serta mendapatkan pemerintahan yang dijanjikan Allah, di seluruh dunia. Al-Quran menegaskan:
Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang orang yang tertindas di bumi dan hendak menjadikan mereka pemimpin serta menjadikan mereka sebagai orang orang yang mewarisi bumi.”(QS 24: 5)

Akhirnya, kemunculan al Mahdi berarti realisasi janji Allah bagi orang or¬ang yang saleh, seperti yang dijelaskan dalam al Quran: Dan sesungguhnya Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis di dalam) Lauhul Mahfudz, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba ¬hamba Ku yang saleh.”(QS 21: 105)

Tidak ada komentar: